Ilustrasi boy’s writing on book photo by Andrew Ibrahim, Unsplash.com

Terjadi banyak perubahan dan tantangan, selama masa pandemi Covid-19 berlangsung. Lebih dari empat bulan lamanya, para siswa dan guru melakukan pembelajaran jarak jauh (daring). Berbagai cerita telah dituai, melalui pengalaman guru dan murid, selama menjalani pembelajaran daring tersebut. Salah satunya yakni rasa jenuh, bosan, dan rindunya para siswa untuk kembali ke sekolah. Melakukan pembelajaran tatap muka, bersama teman dan guru. Dimana hal ini turut menyumbang sikap-sikap maladaptif baru para siswa, yakni turunnya minat, antusias, dan motivasi diri untuk melakukan pembelajaran jarak jauh. Lebih lanjut, sebagian besar siswa mulai menunjukkan sikap mogok belajar, akibat rasa jenuh terhadap situasi pembelajaran selama pandemi ini.

Hal ini tentu menjadi tantangan bagi orangtua dan guru, untuk terus mendorong putera-puteri mereka, agar tetap mau belajar dari rumah, selama masa pandemi berlangsung. Lantas, bagaimana cara bagi orangtua dan guru untuk menangani masalah tersebut?

Pertama, kenali penyebab mogok belajar.

Ada berbagai faktor yang menyebabkan anak mogok belajar. Salah satunya yakni faktor dari dalam dan luar diri anak. Faktor dari dalam diri anak, berkaitan erat dengan suasana hati, stabilitas emosi, pemahaman akan kontrol diri atas sebuah situasi dan perubahan. Sehingga, penting bagi guru dan orangtua, untuk dapat mengamati perilaku anak. Sebagai tanda, apakah anak menunjukkan gejala mogok belajar.

Kedua, kenali tipe belajar anak dan permasalahannya

Orangtua ataupun guru, dapat mengajak anak berdialog secara terpisah di luar waktu belajar. Beri waktu dan kesempatan bagi anak, untuk menceritakan kendala dan permasalahan belajar yang dialami. Analisa serta tanyakan kebutuhannya, cara belajar seperti apa yang paling sesuai, dengan kebutuhannya. Kemudian, arahkan tindakan-tindakan yang dapat membantunya, mengatasi permasalahan tersebut. Sebisa mungkin, tempatkan posisi komunikasi orangtua atau guru, setara atau sejajar dengan posisi anak. Hal ini, dapat membantu anak untuk mengembangkan rasa percaya, terbuka, dan kooperatif ketika bercerita.

Ketiga, Pacu kembali motivasi untuk belajar

Ketika anak telah mengetahui kebutuhannya, anak akan lebih mampu mengembangkan sikap kooperatif dan terbuka. Hal yang dapat dilakukan selanjutnya, yakni membantunya untuk berubah, dan konsisten terhadap perubahannya. Orangtua, dapat menerapkan jadwal yang teratur, namun tidak membebani selama pembelajaran daring berlangsung. Bantu anak untuk berkomitmen, terhadap jadwal-jadwal yang telah ditetapkan untuknya. Pastikan untuk selalu menjaga stabilitas emosi, agar orangtua tidak mudah terpancing dengan perilaku anak, apabila ketentuan tersebut dilanggar. Tetapkan batasan, antara pengawasan, pemberian sikap tegas, dan konsekuensi, agar anak dapat memunculkan rasa tanggung jawab akan tugas-tugas dan aturan yang harus dipatuhinya. Upayakan untuk dapat memberikan dukungan, hadir secara emosional dan sosial, agar anak dapat menumbuhkan kembali motivasi belajarnya.

Keempat, Memunculkan pembelajaran mandiri

Ketika kesadaran belajar, dan motivasi belajar telah bangkit kembali pada diri anak. Sikap mogok belajar sudah seharusnya hilang pada diri anak. Hal ini karena, anak telah menemukan kembali minat dan antusiasnya terhadap sebuah model pembelajaran. Jika sudah demikian, bantu anak untuk dapat mencapai pembelajaran mandiri, yang berasal dari dalam dirinya. Tumbuhkan rasa percaya pada diri anak, dan berikan apresiasi atas intensinya untuk melakukan suatu perubahan. Kesadaran belajar mandiri akan tumbuh, manakal orangtua juga mengembangkan rasa percaya pada diri anak, atas kemampuannya mengelola diri, dan tanggung-jawabnya sebagai siswa. Kesadaran ini dapat membuat anak berkomitmen, untuk terus memenuhi kebutuhan belajarnya.

Kontributor: Marissa

Editor Bahasa dan Tulisan: Tessa Revananda Putri