Ilustrasi person writing on brown wooden table photo by Green Chameleon, Unsplash.Com

“Guru yang kadaluarsa adalah guru yang berbicara. Sedang guru yang sesungguhnya, adalah guru yang mampu mentransformasikan ilmunya. Akan tetapi, guru yang luar biasa  dapat diharapkan untuk memaju-hebatkan negeri ini. Adalah guru yang berhasil menebarkan insipirasi. Dengan karyanya, dengan keteladanannya.” (Lenang Manggala, Founder Gerakan Menulis Buku Indonesia).

Kisah guru akan selalu menginspirasi, dan hanya bisa diabadikan dalam karya. Namun sayangnya, selama ini keberadaan guru untuk membuat karya, atau menjadi bagian dari karya, masih terbatas pada objek saja. Sebatas orang yang dikisahkan, bukan orang yang mengisahkan. Sejauh pengamatan penulis, sulit menemukan guru-guru yang memiliki karya. Menjadikan cerita pengamalan mengajarnya, sebagai inspirasi bagi sekitar. Mengingat semakin padatnya tugas dan tanggung-jawab guru, dalam mendidik dan mengajar.

Lantas, muncul pertanyaan di benak penulis. Apakah tidak ada waktu, bagi guru untuk berkarya? Karya seperti apa yang dapat diciptakan guru semestinya? Bisa jadi, sebetulnya banyak guru yang telah menghasilkan karya, namun tidak memiliki tempat untuk menyalurkan karyanya. Sebuah karya tulis misalnya, memang tidak bisa lahir dari proses yang instan.  Menulis merupakan sebuah keterampilan, yang akan terus bertambah, jika terus dilatih dan dilakukan. Cepat atau lambatnya proses penciptaan karya, akan sangat bergantung pada kecakapan penulisnya.

Tidak jarang, menulis terkadang menjadi sebuah momok besar pada sebagian besar orang. Bagi yang sudah terbiasa, menulis menjadi sebuah kebutuhan, yang dapat menyalurkan ide-ide di kepala, untuk kemudian dituangkan menjadi sebuah alur cerita yang menarik. Apik dan layak untuk dibaca oleh siapa saja segmennya. Menulis tentu membutuhkan kesabaran. Proses dimana setiap penulis, mengonsepkan gagasan, tema, kalimat, muatan paragraf, hingga membentuk sebuah alur cerita, tentu menjadi tantangan menariknya. Namun, sekali lagi, bahwa segala sesuatu itu berawal dari tidak bisa, kemudian terbiasa.

Beberapa orang mungkin mudah membuat satu kalimat. Beberapa yang lain sangat mudah melahirkan paragraf-paragraf. Beberapa yang lain sangat mudah melahirkan satu rangkain besar paragraf membentuk cerita utuh. Semua berawal, dari proses uji coba, dan keberanian untuk terus meningkatkan kemampuan dalam menulis. Di era ini, banyak penulis-penulis lahir dari orang-orang biasa yang terbiasa menulis. Bukan mereka-mereka yang telah diwarisi bakat menulis dari keluarganya. Semua tentu berawal, dari kemauan dan konsistensi kita, dalam mengembangkan keberbakatan untuk melahirkan karya. Begitu halnya dengan guru.

Di tengah kesibukkannya dalam mendidik dan mengajar. Bisa disediakan waktu, untuk dirinya melatih diri dalam menulis dan bercerita. Mungkin bisa diawali dari keluh kesahnya, pengalaman unik pengajaran dan pembelajaran bersama siswanya, target-target pengajaran yang belum tercapai, ataupun strategi pengajaran yang hendak diterapkan ke depannya. Dengan membiasakan diri untuk melakukan journaling, guru dapat memantau pencapaian akan target-target akademik, yang dibuatnya. Hal ini dapat membantu guru melepas beban stress kerja yang dirasakannya. Mengatur dan merapihkan kembali, seluruh jadwal dan aktivitas harian, mingguan, atau bulanannya. Membantu mengekspresikan, penghayatan emosi negatif, yang mungkin masih tersimpan, setelah pengajaran dan merasa belum selesai dengannya.

Menulis atau journaling, dapat membantu guru untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis di tengah karya dan beban tugas yang ditanggungnya. Jika guru sudah terbiasa melakukannya, guru akan lebih mudah untuk bisa membuat sebuah karya tulis entah itu artikel, buku pendidikan, silabus pendidikan, maupun jurnal penelitian, di tengah kesibukkannya. Tentu akan ada banyak tantangan yang dihadapi, ketika guru betul-betul ingin membuat suatu karya. Namun, guru dapat mulai berlatih dari dua strategi, dalam memulai pengalaman kepenulisannya. Pertama yakni mengumpulkan ide dan bahan tulisan, berdasarkan pengalamannya. Lalu yang kedua, mencari sumber bacaan, bisa berupa buku, artikel, jurnal yang terkait dengan karya tulis yang akan dihasilkan. Kedua modal ini menjadi modal yang cukup, bagi seorang guru untuk dapat memulai pengalaman kepenulisannya. Jika sudah demikian, guru akan bisa menghadapi tantangan berikutnya di dalam kepenulisan, yakni layak atau tidaknya tulisan tersebut naik tayang, atau dipublikasikan.

Penting bagi guru yang ingin memiliki karya tulis dalam bentuk publikasi, untuk dapat menguasai teknik-teknik dasar kepenulisan. Memperhatikan penggunaan tanda baca, kalimat efektif, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), serta pengembangan gagasan menarik, yang dapat menjadi suatu alur cerita, dan layak untuk dibaca oleh para pembacanya. Guru dapat memulai kredibilitas kepenulisannya dari, publikasi artikel pada laman website, membuat artikel untuk buletin, majalah, atau sebuah tajuk pada surat kabar, misalnya. Sebelum menerbitkan pada jumlah dan media cetak yang lebih besar. Tentunya, ada banyak manfaat yang dapat dihasilkan dari karya-karya tersebut, salah satunya yakni guna menunjang sertifikasi profesi guru, terhadap bakti nusa.

Kontributor: Nasrul Muhammad Rizal

Editor Bahasa dan Tulisan: Tessa Revananda Putri.