Ilustrasi gambar guru mengajar di kelas diambil dari galeri Husniati Salma Unsplash.Com

Guru sebagai fasilitator dalam kelas, akan selalu berusaha  menciptakan suasana pembelajaran yang menarik, dan informatif. Demi menciptakan suasana tersebut, guru memulai berbagai langkah persiapan. Mulai dari penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (lesson plan), lembar kerja siswa, hingga media pembelajaran. Lalu, bagaimanakah cara agar guru mengetahui, apakah persiapan yang dilakukan telah mampu menghadirkan pembelajaran yang kondusif? Apakah siswa yang akan diampu, telah benar-benar mengikuti proses pembelajaran dengan efektif?

Menjawab pertanyaan tersebut, maka perlu dipahami bersama, bahwa terdapat berbagai respon siswa yang terkategori menjadi tiga fase, yaitu:  Pre-condition, Learning, dan Post Condition.

Pre-Condition

Pada tahap ini, guru mempersiapkan siswa untuk memulai sebuah pelajaran. Persiapan ini penting dilakukan, demi terciptanya suasana kondusif selama pembelajaran di dalam kelas. Terhitung, sejak kelas dimulai hingga akhir pelajaran. Selain itu, persiapan ini juga dapat menjadi salah satu indikator yang menentukan, keberhasilan guru untuk membangun efektivitas pengajaran di dalam kelas. Adapun respon yang harus terlihat pada siswa pada fase ini meliputi:

  • Kesiapan (readiness)

Yaitu siswa sudah duduk di tempatnya masing-masing dengan buku dan alat tulisnya.

  • Suasana hati (mood)

Yaitu keadaan emosional yang bersifat sementara. Siswa yang memiliki mood baik, terlihat bahagia dan antusias terhadap materi yang diberikan oleh guru.

  • Rasa ingin tahu (curiosity)

Yaitu adanya motivasi untuk mengembangkan pengetahuan. Siswa dapat menyampaikan harapan atas materi yang sedang dan/atau akan dipelajari.

Respon di atas dapat dihadirkan, dengan pemberian instruksi yang jelas kepada siswa, serta memberikan stimulasi materi yang kontekstual. Guru bisa meminta siswa untuk merapikan tempat duduk, membuang sampah, merapikan baju, dan aktivitas lainnya, untuk menciptakan student-readiness (kesiapan siswa). Selain itu, guru juga dapat memberi pembukaan dengan kasus yang relevan. Guru dapat mengambil contoh kasus yang dekat dengan kejadian di sekitar siswa. Hal ini berguna untuk, membangkitkan suasana hati (mood) dan rasa ingin tahu (curiosity) siswa.

Learning

Kegiatan utama pada fase ini yakni, ditandai dengan adanya proses berpikir. Proses berpikir ini dapat dikembangkan, dengan merujuk pada konsep pendekatan belajar, Revised Bloom Taxonomy. Dimana terdapat beberapa tahap, yang diawali dari tahap C1 (remembering),  hingga C6 (create). Menurut Bloom, hafalan merupakan tingkat terendah, dalam kemampuan berpikir (thinking behaviors), pada proses belajar manusia. Masih banyak level lain yang lebih tinggi yang harus dicapai. Agar proses pembelajaran, mampu menghasilkan siswa yang kompeten di bidangnya.

Salah satu indikasi, dimana siswa sedang berpikir adalah kebingungan yang ditunjukkan dengan bertanya, kening mengkerut, atau menggaruk kepala. Perilaku tersebut cukup menggambarkan, bagaimana siswa tengah memproses informasi, untuk kemudian diolah menjadi suatu pemahaman  utuh dalam benaknya. Pada tahap ini, siswa telah mecoba memahami materi, namun belum secara penuh menguasainya. Pada kondisi ini pula, peran guru cukup signifikan. Guru diharapkan mampu membantu siswa, untuk memahami proses tersebut, dengan memberikan analogi-analogi ringan dan sederhana. Atau mengulang kembali penjelasan, dengan tatanan bahasa yang lebih mudah dipahami siswa.

Proses berpikir ini, akan memunculkan pengalaman (experience) pada diri siswa. Selain itu, guru juga dapat memberikan berbagai aktivitas lainnya, yang dapat membantu dan memacu siswa, dalam membangun pengalaman belajarnya secara kontekstual. Beberapa aktivitas seperti quiz, permainan, observasi, diskusi, praktik, dan aktivitas menarik lainnya, dapat menjadi alternatif pengajaran pada fase ini. Oleh sebab itu, pengalaman belajar (learning experience) siswa, menjadi aspek yang sangat penting, yang dapat mengindikasikan siswa telah belajar pada fase learning.

Post Condition

Setelah pembelajaran selesai, sebaiknya guru tetap melihat progress siswa, dengan melihat beberapa indikator terhadap materi yang sudah diajarkan. Kebanyakan dari guru, seringkali menggunakan tes tertulis sebagai alat (tools), untuk mengetahui pemahaman siswa. Hal tersebut tentu bisa dilakukan, sebagai sarana untuk mendapatkan gambaran nilai, pada aspek kognitif siswa. Namun, hal ini hanya mampu memberikan gambaran hasil pengukuran memori jangka pendek siswa saja, dan memungkinkan terjadinya kecurangan pada saat pengerjaan. Sehingga, hasil pengukuran tidak cukup reliabel, untuk menggambarkan pemahaman siswa.

Upaya lain yang dapat dilakukan oleh guru yakni, dengan melihat kemampuan siswa, dalam menggunakan konsep materi pada kasus lain. Hal ini dapat membantu guru untuk mengetahui, sejauh mana kecakapan siswa dalam mengimplementasikan konsep sebelumnya. Pada materi, dasar teori, maupun konsep pada mata pelajaran lainnya, sebagai bentuk perbandingan. Pembelajaran seperti ini, dapat membantu siswa menghubungkan materi satu dengan lainnya. Sehingga, mampu menguatkan pemahaman siswa terhadap integrasi keseluruhan mata pelajaran, yang sedang diampu di sekolah.

Selain itu, indikator lainnya siswa telah belajar yakni ada tidaknya perubahan (changes) pada pribadi siswa. Perubahan ini dapat dilihat dari bagaimana siswa mempersiapakan pembelajaran, keaktifannya dalam diskusi di kelas, dan kemampuan dalam mengolah informasi dari guru, maupun sumber-sumber lainnya. Apabila pada pertemuan berikutnya, siswa mampu merapikan tempat duduknya tanpa perlu ada instruksi. Maka hal tersebut mengindikasikan, bahwa siswa telah mampu menginternalisasikan dan menghubungkan materi sebelumnya, dengan materi yang sedang dan atau akan dipelajari, pada pembelajaran berikutnya.

 

Kontributor : Miranti Diah Prastika

Editor Bahasa dan Tulisan: Tessa Revananda Putri