Ilustrasi Brown Wooden Class by Ivan Aleksic Unsplash.Com

Setelah sebelumnya ramai diperbincangkan, mengenai skenario pemberlakuan The New Normal Pendidikan, yang mengacu pada kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Australia. Pada tanggal 30 Mei 2020 silam, presiden Joko Widodo mengumumkan penundaan pemberlakuan The New Normal Pendidikan, karena berbagai faktor risiko yang menjadi pertimbangan. Hal ini disambut positif oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI), yang mayoritas merupakan guru PNS dan honorer pada sekolah negeri.

Pemberlakuan The New Normal dengan protokoler kesehatan yang sangat ketat, dirasa memberatkan berbagai pihak. Umumnya jika hal ini berlaku, pada sekolah-sekolah umum negeri, yang notabene para guru dan tenaga pendidik, memiliki pendapatan rata-rata di bawah angka sejahtera. Lain halnya jika hal tersebut diterapkan pada sekolah-sekolah swasta, yang memiliki aturan tersendiri mengenai fasilitasi pendidikan, dan pendapatan para guru. Sehingga, protokoler tersebut dinilai IGI masih mampu teratasi dengan baik.

Namun, pertimbangan utama yang menjadi poin pemberatan, mengenai penundaan kebijakan ini, yakni mengenai keselamatan para peserta didik. Anak-anak memiliki imunitas yang rentan dalam penularan Covid-19. Setelah sebanyak 31 pelajar di Jawa Timur terbukti positif Covid-19 bebarapa waktu lalu. Baru-baru ini publik kembali dikagetkan dengan kemunculan berita mengenai hasil rapid test 300 siswa Setukpa Polri Sukabumi, yang terbukti positif. Hal ini menambah daftar kekhawatiran orangtua dan guru, dalam kesiapan seluruh pihak, mengenai pemberlakuan kebijakan The New Normal Pendidikan.

Hal ini  juga senada, dengan penutupan kembali sekolah-sekolah publik (public school) di Australia. Seiring dengan ditemukannya, beberapa siswa di New South Wales dan Victoria Selatan yang terbukti positif, setelah kebijakan The New Normal Pendidikan sempat diberlakukan. Pemerintah Australia kembali menerapkan pembelajaran dari rumah, dan akan kembali mempertimbangkan kebijakan mengenai The New Normal pendidikan. Hal ini dilakukan, sebagai langkah antisipasi terhadap peningkatan risiko persebaran dan penularan Covid-19 yang lebih masive, melalui sektor pendidikan.

Kontributor

Tessa Revananda Putri-Health Psyhcology in Digital Intervention