Ilustrasi “man in blue and white stripped long sleve shirt standing beside man in teaching by” Science Id, Unspslash.com

Peradaban dunia berkembang secepat deret ukur, sementara dunia pendidikan bergerak seperti deret hitung. Hadirnya revolusi Industri 4.0, di tengah kemajuan teknologi mutakhir yang serba cepat, dan peran dominansi generasi Z di era digital, mendorong percepatan dunia pendidikan untuk beradaptasi dan berjalanan beriringan dengan kemajuan di era digitalisasi.

Akses internet yang merata misalnya, sangatlah potensial dalam meningkatkan kualitas pembelajaran bagi guru dan siswa di Indonesia. Sebagaimana yang tercatat dalam Global Education Monitoring (GEM) Report 2016, Indonesia termasuk yang memiliki kesenjangan mutu pendidikan, terutama pada wilayah terpencil. Lebih lanjut, asisten Direktur Jenderal UNESCO pada periode tersebut, Qian tang, menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia masih terfokus pada angka kelulusan siswa, dan mengemban pendidikan dasar. Sementara peningkatan kualitas pendidikan, juga penting diperhatikan pemerintah, karena aspek tersebut dapat  berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi nasional.5 Penjelasan sekaligus sindirian tersebut, kemudian disambut positif oleh Pemerintah Indonesia, dengan rampungnya konstruksi proyek Palapa Ring Timur pada Agustus 2019 yang diperuntukan bagi Warga Indonesia bagian timur, dari Nusa Tenggara Timur hingga Papua.

Tidak hanya itu, pemerintah Indonesia melalui kementerian Kominfo juga terus mengembangkan teknologi satelit cepat, untuk mendukung seluruh akses penggunaan di seluruh sektoral, baik industri, pendidikan, kesehatan, pemerintahan, keamanan. Melalui proyek Satelit Satria yang akan diluncurkan pada tahun 2022. Melalui teknologi very high throughput, Indonesia akan menjadi negara keempat yang memiliki satelit dengan teknologi sangat cepat, untuk memberikan akses terhadap 93.900 sekolah, 47.900 kantor pemerintahan daerah, 3.700 puskesmas, dan 3.900 markas polisi dan TNI.7

Hal ini tentu menjadi angin segar, sekaligus memberikan harapan baru terhadap kualitas pendidikan  para siswa dan pengajaran para guru di Indonesia Timur. Hadirnya platform pembelajaran digital berbahasa indonesia dan asing bagi siswa, baik yang disediakan oleh pemerintah seperti Rumah Belajar milik Kemendikbud, maupun swasta seperti Hafecs, Ruangguru, Quipper, Zenius, Klassku, Edmodo, Kahoot, science animation, Byju’s, dan Self-Organized Learning Environment (SOLE) dan sebagainya, menunjukkan bukti adanya dampak pemanfaatan teknologi, di dalam dunia pendidikan. Khususnya dalam menyambut The New Normal Era Pendidikan selama pandemi Covid-19.

Meskipun demikian, tentu ada banyak tantangan, risiko, dan pro-kontra, mengenai pemanfaatan teknologi di dalam dunia pendidikan. Terutama dalam hal penggunaan gadget untuk mengakses platform-platform tersebut. Perlu adanya pengawasan orang dewasa lainnya, terkait konten materi dan iklan-iklan berbau kekerasan, kejahatan seksual, cyberbullying yang seringkali muncul dengan bebas, pada layar gawai, desktop, tablet, maupun ipad siswa misalnya.

Hasil studi terbaru di Australia pada Juni 2019, yang dipublikasikan melalui lama Kementerian Pendidikan Pemerintahan Victoria. Sebanyak 53% para pemuda Australia, meliputi remaja, anak-anak usia sekolah, pernah mengalami cyberbullying, dan meningkat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Hal ini membuat pemerintah Victoria, mengikuti larangan penggunaan gadget (ponsel) seperti yang dilakukan oleh pemerintah Perancis pada tahun 2018. Sementara pada negara lain seperti Denmark, Swedia21, dan Inggris  masih mengalami perdebatan, mengenai masalah aturan ini. Hal ini sejalan, dengan pencabutan larangan yang diberlakukan New York, Amerika Serikat pada tahun 2015, dengan alasan sulitnya menegakkan konsistensi larangan di kelas di beberapa sekolah. Adanya kekhawatiran terkait keselamatan dan keberadaan siswa di luar jam sekolah, atau keperluan menghubungi keluarga.

Jika kembali kepada topik pemanfaatan media, teknologi, digitalisasi di dalam proses pembelajaran. Media tentu bisa membantu siswa dalam memvisualisasikan materi, yang tadinya sulit menjadi mudah, dengan tampilan animasi, gerak, suara, teks, maupun berupa video. Namun, tetap saja, peran media pembelajaran digital hanyalah pendukung, alat, sarana, untuk membantu aktivitas pembelajaran siswa. Sementara, tugas mendidik dan memberikan pemahaman, tetap menjadi tugsas utama Guru Indonesia yang tidak akan pernah bisa dipisahkan, di era ini. Menjadi tugas guru, untuk dapat terus meningkatkan  keterampilan dalam mengajar, dan mengggunakan perangkat pembelajaran berbasis digital, selama masa transisi The New Normal Era Pendidikan. Salah satunya yakni meingkatkan skill terhadap literasi komputer dan teaching aid, selama pandemi berlangsung.

Kontributor,

Tessa Revananda Putri (Health Psychology in Digital Intervention)