Ilustrasi “woman sitting at table photo by” Campaign Creators, Unsplash.com

Sebelum jauh berbicara, mengenai literasi media pengajaran, di era The New Normal Pendidikan. Ada satu tantangan besar yang mendasar, yang perlu dituntaskan oleh para Guru Indonesia. Mengingat, munculnya fakta menarik, dimana masih banyak guru yang kemampuan atau kompetensi dalam mengajarnya masih diragukan. Hal ini terbukti, pada nilai pencapaian Uji Kompetensi Guru (UKG), yang jika dilihat dari trendnya sejak kemunculannya pada tahun 2015, rata-rata hasil UKG Nasional berada di angka 50-55. Sementara, Kredit Capaian Minimal (KCM) setiap tahunnya meningkat 55 pada tahun 2015 dan 80 pada tahun 2019.

Hasil UKG memang tidak menjadi satu-satunya faktor, yang menentukan kualitas pengajaran seorang guru. Namun, hasil ini mengindikasikan, masih banyak guru di Indonesia yang memiliki kompetensi minimal, untuk memberikan dan memfasilitasi kualitas pendidikan dan pengajaran yang baik bagi para siswa. Sementara, fakta lain yang seharusnya bisa memotivasi para guru untuk meningkatkan kemampuan, kompetensi, dan  profesionalisme di dalam pengajaran yakni, beban pada capaian hasil nilai UN (Ujian Nasional) para siswa. Yang tentunya, menjadi indikator keberhasilan pengajaran guru, dalam menuntaskan setiap jenjang belajar siswa.

Pemerintah Indonesia, terus berupaya dalam meningkatkan kompetensi guru melalui program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Adapun komponen PKB meliputi: 1) Pengembangan Diri (Diklat Fungsional & Kegiatan Kolektif Guru), 2) Publikasi Ilmiah, 3) Karya Inovatif. Program ini merupakan kelanjutan dari program serupa yang sebelumnya bernama Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar. Program ini mengacu pada Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Dimana guru, dituntut untuk meningkatkan kompetensinya secara berkelanjutan, agar dapat menjadi tenaga pendidik yang lebih profesional.

Berdasarkan hasil studi Rise Program Indonesia pada tahun 2018 mengenai evaluasi hasil penerapan program diklat  pada wilayah Yogyakarta, Kebumen, dan Gorontalo, masih terdapat aspek yang belum menunjukkan perubahan yang signifikan, yakni pada aspek paedagogik. Dimana hasil post-test UKG pada tahun 2016 menunjukkan : ada perbaikan skor setelah guru mengikuti Diklat Fungsional sebesar 22,63 dari peroleh rata-rata UKG Nasional Tahun 2015 sebesar 40,17 meningkat pada tahun 2016 menjadi 63,8 akan tetapi capaian ini masih belum menembus angka KCM pada tahun 2016 yakni sebesar 65.

Temuan lainnya, yakni masih banyak guru yang mendapat skor di bawa KCM; dan masih ada guru yang belum mengikuti post test. Hal lainnya yang menjadi sorotan utama, pada temuan studi ini yakni mengenai beluma adanya dukungan kelembagaan secara maksimal, untuk memberikan pendampingan dan bimbingan intensif bagi guru setelah mengikuti diklat. Pemberian reward dan punishment bagi para guru yang mencapai angka kelulusan KCM UKG, dan penyampaian hasil evaluasi kepada pihak peserta, pengawas, kepala sekolah, dan Ketua Kelompok Kerja Guru (KKG) di ketiga wilayah studi tersebut.

Hafecs hadir di tengah disrupsi pendidikan, sebagai mitra pemerintah dalam mengentaskan permasalahan tersebut. Sebagai sebuah lembaga konsultan pendidikan, yang mendorong percepatan transformasi pendidikan Indonesia. Hafecs selalu berusaha memberikan kontribusi maksimal bagi bangsa Indonesia. Melalui program-program yang mendukung perecepatan, peningkatan kompetensi pengajaran para guru, secara terstruktur dan terukur.

Melalui visi Hafecs, “memacu transformasi pendidikan Indonesia melalui pengembangan kompetensi guru”. Hal ini diwujudkan, dengan membantu guru dan institusi pendidikan bertransformasi lebih cepat, dalam proses pengajaran dan pembelajaran ke arah yang lebih baik. Melalui Teaching Mastery Framework (TMF), yang diturunkan pada pengembangan aspek Higher Order of Thinking Skill (HTS), dan Paedagogical Context Knowledge (PCK). Hafecs hadir bagi guru dan institusi pendidikan Indonesia, melalui berbagai program webinar dan internal training series. Tidak hanya terletak pada peningkatan kompetensi paedagogik saja. Akan tetapi, bagaimana kami juga mendorong dan meningkatkan percepatan skill kepemimpinan (leadership skill), para guru dan tenaga pendidik Indonesia.

Karena kami percaya, bahwa melalui pengajaran yang terukur dan profesional, antara guru, siswa, dan orangtua di era The New Normal Digitalisasi Pendidikan ini. Dapat meningkatkan mutu pendidikan secara kuantitatif, kualitatif, dan objektif.

Hal ini merupakan bukti, bakti luas kami bagi guru, siswa, dan Institusi Pendidikan Indonesia untuk terus menggerakkan dan mengerahkan seluruh potensi yang ada. Demi tercapainya, transformasi kemajuan pendidikan Indonesia yang pada saat ini, tengah berada pada fase transisi menuju The New Normal Pendidikan. Dimana seluruh akses dan media pengajaran, berbasis daring, dan pemanfaatan teknologi, menuju masyarakat Industri 4.0.

Selamat datang di era baru ini. Dimana setiap manusia, dipacu untuk terus beradaptasi, dan menerima perubahan ke depannya.

Salam Guru Inovatif Indonesia!

Kontributor,

Tessa Revananda Putri (Health Psychology in Digital Intervention)